Dolar AS Perkasa di Tengah Krisis Selat Hormuz, Yen dan Pound Tertekan
"Penguatan dolar AS dipicu ketegangan di Selat Hormuz dan sentimen hawkish Fed, sementara pound sterling dan yen Jepang mengalami tekanan berat."
|
Pasar finansial global kembali diguncang ketidakpastian geopolitik dan makroekonomi yang membuat pergerakan mata uang utama bergerak volatil. Dolar AS dilaporkan bergerak perkasa pada perdagangan Senin, di tengah keretakan kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Di sisi lain, komoditas minyak mentah melonjak akibat penutupan jalur maritim strategis, sementara mata uang pound sterling dan yen Jepang justru terkapar menghadapi tekanan domestik masing-masing.
Kombinasi antara fungsi dolar AS sebagai aset safe haven dan tingginya imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (US Treasury) menjadi motor utama yang menopang keperkasaan indeks dolar pada awal pekan ini.
Eskalasi Timur Tengah Dongkrak Harga Minyak Dunia
Sentimen menghindari risiko (risk-off) menjalar ke pasar setelah Presiden AS Donald Trump melontarkan ancaman untuk menyalakan kembali konflik di Timur Tengah. Ketegangan semakin memuncak menyusul pengumuman sepihak dari Teheran yang menutup Selat Hormuz, salah satu jalur logistik minyak paling vital di dunia. Padahal, di saat yang sama, perundingan damai kedua negara sebenarnya masih berlangsung di Swiss guna memperpanjang gencatan senjata.
Langkah Iran menutup jalur pelayaran berimbas langsung pada penurunan volume lalu lintas kapal tanker secara drastis. Dampaknya, harga minyak mentah dunia langsung melesat, di mana kontrak berjangka minyak Brent naik 1,30% ke level $81,62 per barel.
Para analis menilai bahwa ketatnya pasokan fisik minyak akan terus memberikan bantalan kuat bagi harga energi. Di sisi lain, pergerakan di pasar valuta asing (forex) dan komoditas lain seperti emas dunia akan sangat bergantung pada perkembangan krisis energi ini, mengingat inflasi global terancam kembali terkerek naik.
Badai Politik Inggris Tekan Pound Sterling
Dari Benua Eropa, pound sterling (GBP/USD) mencatatkan pelemahan sebesar 0,24% ke level $1,32055. Amblesnya mata uang Inggris ini dipicu oleh gejolak politik domestik, di mana Perdana Menteri Keir Starmer dilaporkan tengah mempertimbangkan masa depan politiknya menyusul kemenangan telak rivalnya, Andy Burnham, dalam pemilihan parlemen.
Pelaku pasar saat ini fokus mencermati arah kebijakan fiskal yang akan diambil oleh Burnham, terutama terkait potensi pelonggaran aturan anggaran reguler. Jika pelonggaran fiskal benar-benar terjadi, pasar obligasi Inggris diprediksi akan merespons negatif, yang pada gilirannya berpotensi kian menggerus nilai tukar pound sterling.
Sementara itu, mata uang euro (EUR/USD) juga ikut melemah tipis 0,1% ke level $1,1462. Tren penurunan serupa dialami oleh dolar Australia (AUD) dan dolar Selandia Baru (NZD) yang masing-masing melemah terhadap the greenback.
Yen Jepang Dekati Rekor Terendah, Intervensi Diragukan
Tekanan paling berat dihadapi oleh yen Jepang (USD/JPY) yang merosot ke level 161,53 per dolar AS, mendekati level terendah dalam dua tahun terakhir. Jika pergerakan harga menembus level psikologis 161,96, yen akan mencatatkan posisi terlemahnya sejak tahun 1986.
Meskipun Menteri Keuangan Jepang, Satsuki Katayama, menegaskan bahwa otoritas moneter siap mengambil tindakan tepat kapan saja untuk meredam volatilitas, pasar meragukan efektivitas intervensi tersebut. Para analis menilai bahwa melawan arus penguatan dolar AS saat ini akan menjadi langkah yang sia-sia dan memakan biaya besar.
Pasalnya, penguatan dolar AS disokong oleh fundamental ekonomi domestik yang solid serta sikap bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), yang condong hawkish. Ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed kembali meningkat, di mana pasar telah mengantisipasi kenaikan total 43 basis poin (bps) pada tahun ini, dengan kenaikan sebesar 25 bps yang diproyeksikan terkunci sepenuhnya pada September mendatang. Hal ini tecermin dari yield US Treasury tenor 2 tahun yang meroket ke level 4,2276%, tertinggi sejak awal 2025.
Implikasi bagi Pasar Finansial dan Investor Indonesia
Perkembangan pasar global ini membawa dampak berantai yang perlu diwaspadai oleh investor di Indonesia:
- Tekanan pada Rupiah: Keperkasaan dolar AS secara global berpotensi menekan nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS. Investor perlu mengantisipasi potensi pelemahan nilai tukar di pasar spot domestik.
- Sentimen Pasar Saham dan Obligasi: Kenaikan yield US Treasury biasanya memicu aksi jual di pasar negara berkembang (emerging markets). Investor asing berpotensi melakukan pembatasan risiko dengan mengurangi porsi kepemilikan pada Surat Berharga Negara (SBN) dan saham-saham berkapitalisasi besar di IHSG.
- Inflasi Sektor Energi: Lonjakan harga minyak Brent dapat meningkatkan beban subsidi energi pemerintah atau menaikkan harga BBM nonsubsidi di dalam negeri, yang pada akhirnya dapat memicu tekanan inflasi impor (imported inflation).
Secara keseluruhan, pasar finansial global saat ini didominasi oleh penguatan dolar AS sebagai instrumen penyelamat di tengah memanasnya tensi geopolitik Selat Hormuz dan proyeksi suku bunga tinggi The Fed. Sebaliknya, ketidakpastian politik di Inggris dan ketidakberdayaan moneter Jepang membuat pound sterling dan yen terus berada dalam tren defensif.
Agenda ekonomi berikutnya yang wajib dipantau oleh para investor adalah kepastian arah kebijakan fiskal Inggris pasca-pemilu parlemen, serta rilis data ekonomi AS terbaru yang dapat memberi sinyal lebih jelas mengenai langkah pengetatan moneter The Fed selanjutnya. Investor disarankan untuk bersikap konservatif dan memperhatikan diversifikasi aset ke instrumen yang lebih aman.